Bangkitnya Ikan Nila Dikawasan Pasar Domesti

Ikan nila merupakan salah satu jenis ikan yang menjadi makanan favorit bagi pecinta ikan. Beberapa bulan belakangan ini terjadi penurunan konsumen akan permintaan ikan nila. Hal tersebut berdampak terhadap turunnya permintaan (demand) pada pemasokan ikan nila. Penurunan tersebut mencapai 10 hingga 20 % yang terbanyak rata-rata di permintaan dari rumah makan. Survey menyatakan bahwa penurunan akan permintaan ikan nila dikarenakan adanya pandemi covid-19 yang membuat masyarakat tidak bisa keluar bebas untuk belanja ke pasar basah yang telah di tutup saat pandemi, sehingga masyarakat kebanyakan mengandalkan makanan yang praktis tanpa harus banyak ke tempat umum yang ramai seperti pasar basah.

Adanya pandemi ini berimbas ke stakeholder ikan air tawar terkhusus ikan nila baik dari hulu sampai hilir. Dampak permasalahan hulu yaitu konsumsi ikan nila menurun yang menyebabkan daya beli juga turun, hal tersebut dikarenakan masyarakat tidak keluar rumah. Sedangkan dampak permasalahan di hilir menyebabkan pembudidaya ikan nila menyetop usahanya karena rendahnya penjualan.
Di era new normal ini permintaan (demand) ikan nilai sudah mulai membaik. Hal tersebut dikarenakan mulai pertengahan Agustus kemarin pasar basah sudah mulai dibuka. Membaiknya permintaan tersebut membuat para pembudidaya ikan nila juga mulai merambah naik. Namun untuk menggait para calon pembeli agar lebih membaik lagi di musim pandemi ini perlu perluasan pasar domestik tidak hanya di pasar tradisional maupun supermarket saja, melainkan juga diperlukan kreativitas untuk lebih menarik calon konsumen. Perlunya perluasan pasar domestik ini karena jika dilihat penjualan ikan nila kalah saing dengan penjualan daging ayam yang harganya bahkan lebih murah dan mudah diolah.
Menurut survey yang telah dilakukan, masyarakat lebih tertarik dengan produk praktis seperti frozen food. Salah satu kreativitas yang dapat dilakukan pengembang budaya ikan nila dengan melakukan kerja sama antar bandar ikan yang diambil dari pembudidaya dan bekerja sama dengan pengolah ikan seperti Labas (PT Laju Banyu Semesta) di Jawa Barat. Labas merupakan salah satu perusahaan pengelolah produk–produk olahan sidat seperti sirayaki dan kabayaki, yang sekarang ini ikut merambah frozen (beku) nila dan lele bumbu kuning yang sudah bersih isi perut dan sisik. Dari kerjasama yang dilakukan oleh pembudidaya ikan nila sampai perusahaan pengolah seperti Labas tersebut dapat menjadi solusi dalam permasalahan penurunan penjualan serta sebagai salah satu kreativitas dalam pengolahan ikan nila menjadi produk praktis yang dapat banyak menggait pembeli dikawasan pasar domestik.
Menurut Salim Hidayat, Supervisor Technical Partner Fish Feed East Java Area PT Centra Proteina Prima, kemungkinan akan terjadi kenaikan harga ikan nila di bulan Oktober-Desember menjadi Rp 25 ribu – 30 ribu per kg nya. Prediksi kenaikan harga ikan nila ini dapat menjadikan pembudidaya ikan akan semakin beroperasi dalam menjalankan usahanya secara maksimal. Sehingga dapat mensejahterkan masyarakat sebagai pengusaha pembudidaya dan konsumen akan merasa tidak ambil pusing karena kebutuhan akan ikan nila yang telah tersedia.

Sumber:
http://trobosaqua.com/detail-berita/2020/08/15/12/13331/permintaan-pasar-mulai-membaik
http://trobosaqua.com/detail-berita/2020/08/15/12/13330/stimulasi-pasar-nila-domestik

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *